Thursday, 19 October 2017

Cerpen: Pelita


Pelita duduk bertekuk lutut di sisi tempat tidurnya. Menatap kosong ke luar jendela. Termangu sendirian di tengah remang-remang cahaya dari lentera di sudut ruangan. Sesekali ia terisak.
Sementara itu, samar-samar terdengar suara gaduh dari ruang keluarga di lantai dasar rumah gedongan tempat Pelita bernaung.
“Semua ini kesalahanmu!” Lelaki berusia senja menyeru lantang.
“Tidak! Semua ini karenamu!” Perempuan paruh baya membentak dengan suara melengking.
Pelita kembali terisak. Ia tahu bahwa dirinyalah penyebab semua kegaduhan itu.
Pandangannya berpaling ke pintu ketika mendengar suara berderap. Suara derap itu berhenti persis di pintu kamarnya. Lalu, terdengar suara ketukan.
Pelita bisa menebak siapa yang sedang mencoba menemuinya.
Gagang pintu bergerak pelan. Pintu itu berderik kala dibuka.
Pintu itu baru sepertiga terbuka kala seorang perempuan dewasa menjulurkan kepalanya. Matanya menatap lamat-lamat kepada Pelita. Kemudian menyuggingkan senyuman. Ia segera masuk tanpa dipersilakan. Menutup kembali pintu rapat-rapat sebelum melangkah ke arah Pelita.
Perempuan dewasa itu adalah kakak Pelita. Namanya Renata. Satu-satunya kakak yang dimilikinya. Renata baru saja pulang setelah empat tahun rantaunya di negeri orang lain.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Renata kepada Pelita.
Pelita memalingkan pandangannya ke arah lentera di sudut ruangan. Membisu.
Sementara itu, samar-samar masih terdengar suara gaduh dari ruang keluarga di lantai dasar rumah gedongan tempat Pelita dan Renata bernaung.
“Kamu terlalu memanjakannya!” Lelaki berusia senja menyeru lantang.
“Kamu yang terlalu keras mendidiknya!” Perempuan paruh baya membentak dengan suara melengking.
Renata mendekatkan wajahnya ke wajah Pelita.
“Bagaimana keadaanmu?” Renata mengulang pertanyaannya.
Pelita lebih memilih diam.
Renata tahu bahwa adiknya sedang memikirkan kegaduhan di luar sana.
“Apakah kau baik-baik saja?” Renata kembali bertanya dengan kalimat yang berbeda.
Pelita menunduk. Memainkan jari-jari tangannya.
 “Aku punya banyak sekali cerita dongeng baru. Aku dan teman-teman asramaku selalu menceritakan dongeng dari negara masing-masing saat akhir pekan. Kamu ingin mendengarnya?”, Renata tidak mudah menyerah begitu saja.
Sementara itu, samar-samar terdengar suara pecahan kaca dari ruang keluarga di lantai dasar rumah gedongan tempat Pelita dan Renata bernaung.
“Pelita? Kau ingin mendengarkan cerita-cerita dongeng itu?” Renata mencoba merebut perhatian adiknya dari suara gaduh di luar sana. “Cerita-cerita dongeng itu seru sekali, loh. Kamu bisa menceritakannya kembali ke teman-temanmu nanti.”
Pelita beralih pandangan ke arah jendela. Ditatapnya langit kelam di luar sana.
“Apakah kau tidak merindukan kakak, Pelita?” Tanya Renata pelan.
Pelita menatap ke dalam bola mata teduh kakaknya. Terisak. Melinangkan air mata. Lalu kembali tertunduk.
Renata tahu betul bahwa adiknya itu merindukannya sangat dalam. Renata memeluk Pelita erat. Mencium kening adik satu-satu yang dimilikinya. Adik yang paling disayangi dan paling dibanggakannya.
Renata beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan Pelita sendirian.
Renata menyusuri lorong-lorong kecil di rumahnya. Semakin ia melangkah maju, suara gaduh itu semakin jelas terdengar. Hingga suara gaduh itu menyisakan hening setibanya ia di ujung lorong.
Lelaki berusia senja dan perempuan paruh baya baru saja masuk ke dalam kamar.
Renata berdiri di balik pintu kamar. Membuka tanpa mengetuknya lalu menutup kembali rapat-rapat.
“Sudah selesai diskusinya, Ma? Pa?” Renata bertanya pelan.
Kedua orang tua itu menatap sinis.
“Sampai kapan kalian akan mempertahankan ego masing-masing?” Nada bicara Renata mulai tidak sabaran.
“Renata, bicaralah dengan sopan!” Lelaki berusia senja itu membentak.
“Aku kira semua akan berubah setelah aku pergi. Tapi, ternyata aku salah. Aku bodoh karena saat itu aku terlalu percaya dengan diriku sendiri. Aku kira kalian akan mendengarkan apa yang kusampaikan.” Renata mulai berbicara. “Tapi, ternyata aku salah.” Suaranya merendah.
“Pelita!” Kali ini perempuan paruh baya yang membentak.
“Kalian menyalahkan Pelita yang selalu keluar rumah, tapi tidak pernah bercermin pada diri kalian masing-masing. Bagaimana mungkin seseorang akan betah tinggal di rumah bila setiap hari mereka hanya dipertontonkan perkelahian? Cukup, Ma! Pa! Aku dan Pelita capai melihat kalian terus-terusan bertengkar. Di depan tetangga kalian adu kehebatan, di depan teman-temanku dan teman-teman Pelita kalian saling lempar kesalahan. Sudah berkali-kali aku memohon kepada kalian agar jangan bertengkar di depan adikku. Sudah berkali-kali aku memohon agar Pelita tidak pernah melihat kekerasan lagi.” Ucap Renata dengan intonasi yang semakin kacau.
“Oh, jadi karena itu kamu berani melawan orang tua?” Lelaki berusia senja itu kembali berbicara.
“Papa dan Mama beruntung karena Pelita tidak seberontak aku. Papa dan Mama beruntung karena Pelita hanya bisa tertunduk diam bila dimarahi. Papa dan Mama teramat sangat beruntung mempunyai anak manis seperti Pelita!” Renata melanjutkan kalimatnya.
“Sudah, Renata! Bahkan kau tidak pernah membela adikmu sendiri bila kami marahi!” Perempuan paruh baya itu menimpali.
“Ya! Aku tidak ingin membelanya di hadapannya. Tapi, Mama dan Papa tahu kalau aku selalu membelanya ketika dia tidak ada. Tidak seperti Mama! Mama selalu memanjakannya di depannya hingga ia merasa selalu ada orang yang melindunginya bila dia membuat kesalahan. Aku ingin Pelita menjadi anak yang tangguh!” Aku Renata.
“Sudah kukatakan, Aisyah. Kau tidak perlu ikut campur bila aku menghukum anak-anak!” Lelaki berusia senja itu kini membentak perempuan paruh baya di hadapannya.
“Aku bahkan tidak pernah membentak Mama dan Papa di depan Pelita. Aku tidak ingin Pelita menjadi anak pembantah sepertiku. Tapi, Papa? Papa selalu saja membentak Mama di depan kami. Papa yang telah memberikan contoh buruk itu!” Ujar Renata.
“Kamu memang seperti itu!” Kini giliran perempuan paruh baya yang menimpali lelaki berusia senja itu.
“Kalian selalu saja melarang Renata dan Pelita melakukan ini dan itu. Padahal, semua yang kami lakukan tidak pernah memberatkan kalian. Sebaliknya, bahkan kami membuat kalian bangga.” Renata mengambil satu helaian napas panjang. “Pa, Ma, aku tahu kalian sangat menjaga Pelita. Tapi, tanpa kalian sadari kalian justru mengekang dia. Sampai kapan kalian akan melakukan itu? Ku mohon hentikan ini semua. Aku ingin adikku tumbuh tanpa tekanan!” Renata mempertemukan kedua telapan tangannya, jari-jarinya saling menggenggam, “Tepat tujuh hari lagi, Pelita akan berusia 17 tahun. Dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk untuk dirinya sendiri. Berilah kepercayaan kepadanya.” Renata tersenyum.
“Terima kasih sudah mau mendengarkan Renata.” Kata Renata sesaat sebelum ia menutup pintu kembali.
Renata kembali menyusuri lorong-lorong rumahnya menuju kamar Pelita. Ia sedikit berlari. Tidak sabar ingin memeluk erat adiknya.
Sesampainya di kamar Pelita, Renata melihat adiknya sudah terlelap di ranjangnya. Pulas sekali.
***
Tujuh hari selanjutnya.
Pagi-pagi sekali Renata membuka pelan pintu menuju ruangan tiga kali empat meter di sebuah bangunan megah bercat putih.
Saat pintu itu terbuka, Renata mendapati ruangan yang sangat sepi. Hanya ada dua orang di ruangan itu. Laki-laki berjas putih seusianya tersenyum saat melihatnya berjalan memasuki ruangan itu.
Sorot mata Renata tertuju pada seorang lelaki berusia senja yang sedang terbaring lemah. Dua selang tertancap di punggung telapak tangan kirinya. Satu selang terhubung dengan kantong darah. Selang lainnya dialiri cairan infus. Satu selang lagi menghubungkan hidungnya dengan tabung oksigen.
Renata berjalan menuju satu-satunya pembaringan di ruangan itu. Mata sembapnya menatap sendu seseorang yang terbaring lemah di sana.
“Selamat pagi, Pa. Cepatlah bangun.” Renata terisak.
Sudah hampir tiga hari lelaki berusia senja itu terbaring di sana. Tidak sadarkan diri. Hari-hari sebelum dia tidak sadarkan diri merupakan hari-hari yang sangat sulit. Hampir setiap hari dia tidak makan dan juga tidak tidur. Memikirkan dan menjaga banyak sekali hal.
Renata mengelus rambut lelaki senja itu dengan penuh kasih sayang. Mengecup keningnya.
Lama sekali Renata berada di ruangan itu. Di tengah-tengah penantiannya. Berharap lelaki berusia senja itu membuka kedua matanya.
“Kapan Papa bangun?” Tanya Renata kepada lelaki berjas putih. Itu merupakan pertanyaan keseribunya saat lelaki paruh baya di hadapannya tidak sadarkan diri.
Lelaki berjas putih hanya bisa mengedipkan kedua matanya. “Kita berdoa saja.” Tuturnya.
“Segera kabari aku jika Papa sadarkan diri.” Pinta Renata.
Renata kembali terisak. Dia bangkit dari tempatnya duduk. Meninggalkan lelaki berusia senja bersama lelaki berjas putih.
***
Matahari mulai meninggi hingga tepat berada di atas kepala.
Renata menuju sebuah ruangan di sisi lain bangunan megah bercat putih.
“Renata, dari mana saja kamu?”, Seorang perempuan paruh baya langsung berseru ketika melihat kepala Renata muncul dari balik pintu. Dia sedang sibuk dengan bunga-bunga plastik.
Renata mendapati sebuah ruangan yang sangat ramai. Balon-balon udara menghias sudut-sudut ruangan. Bunga-bunga plastik tertata indah di sisi-sisi ruangan. Ada karpet merah yang menjulur ketika memasuki ruangan itu. Mengarah ke arah kue tar yang terletak di tengah-tengah ruangan. Ruangan itu didekorasi sempurna untuk sebuah pesta ulang tahun.
“Ini semua Mama yang buat?” Tanya Renata penasaran.
Perempuan yang ditanya Renata – sedang asyik bergelut dengan bunga-bunga plastik – tidak menghiraukannya.
“Halo. Kamu anaknya dia?” Seorang perempuan paruh baya lain menyapa Renata. Dia memegang balon udara dengan riangnya. “Wah, cantik sekali kamu!”, dia kemudian mencubit-cubit pipi Renata.
“Renata, di mana Pelita?”, Perempuan paruh baya yang sedang mengotak-atik bunga-bunga plastik bertanya kepada Renata.
Renata tidak menjawab. Dia sedang asyik mengobrol dengan perempuan seusianya sembari menatapi balon-balon udara di salah satu sudut ruangan.
“Renata, Mama bertanya kepadamu.” Perempuan paruh baya itu meninggikan suaranya.
Renata berbalik badan. Perempuan di sampingnya juga ikut berbalik badan.
“Iya, Ma?” Renata mendapati perempuan itu masih berdandan.
“Pelita sudah pulang?” Perempuan paruh baya itu kembali bertanya.
Renata tersenyum sebentar. Mengangguk.
Perempuan paruh baya itu menghampiri Renata. Wajahnya berseri-seri. Girang sekali.
“Benarkah? Bagaimana penampilan Mama? Apakah Mama sudah cantik?”
Renata memerhatikan perempuan paruh baya itu dengan saksama. Perempuan paruh baya itu mengenakan gaun berwarna merah. Gincu berwarna merah darah terpoles di bibirnya. Polesannya bahkan melewati garis pinggir bibirnya. Bedaknya juga berlepotan.
“Cantik sekali, Ma!” Renata tersenyum.
Perempuan paruh baya itu memutar badannya. Mengibas-ngibaskan rok gaunnya. Meloncat-loncat kegirangan.
“Tapi, Pelita benar-benar sudah pulang, kan?” Tiba-tiba perempuan paruh baya itu bertanya cemas. Cepat sekali ekspresinya berubah.
Renata tersenyum. “Iya, Ma. Pelita benar-benar sudah pulang” Renata memeluk tubuh perempuan paruh baya itu erat. Sangat erat.
“Awas, nanti gaun Mama kusut.” Perempuan paruh baya itu melepaskan pelukan Renata.
Renata mengambil satu buket dari salah satu sisi ruangan. “Ma, aku minta satu bunganya, ya?”
“Jangan, ini semua untuk Pelita.” Perempuan paruh baya itu mengambil buket dari tangan Renata. Kemudian tersenyum simpul.
“Mama pasti belum menghitung jumlah buketnya. Semua ada delapan belas. Lebih satu, kan, Ma?” Renata mengambil kembali buket dari tangan perempuan paruh baya.
“Benarkah?” Perempuan paruh baya melayang-layangkan telunjuknya. Menghitung jumlah buket di ruangan itu. Mengulangnya berkali-kali.
“Mama tidak memercayai Renata lagi?” Renata memasang wajah kecewa.
Perempuan paruh baya itu berhenti menghitung. Tersenyum.
“Ma, Renata mau pergi dulu sebentar.” Renata memohon izin kepada perempuan paruh baya.
“Kamu mau kemana lagi?” Tanya perempuan paruh baya marah. Ekspresinya berubah lebih cepat.
“Ada urusan sebentar, Ma.” Renata mencium punggung telapak tangan perempuan paruh baya.
“Renata, jangan lupa panggil Pelita. Bilang kalau Mama sudah menunggunya!” Ucap perempuan paruh baya ketika Renata tepat di hadapan pintu. Ia kembali asyik memainkan bunga-bunga plastik.
Renata tersenyum tanpa membalikkan badan ke arah perempuan paruh baya.
“Aku pergi dulu. Tolong jaga Mama baik-baik. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku.” Pinta Renata kepada perempuan seusianya yang sedari tadi mengobrol dengannya. Perempuan yang mengenakan jas putih. Kemudian dia menutup pintu ruangan ramai itu rapat-rapat.
***
Matahari mulai merendah. Renata sedang berada di perbukitan di tengah kota. Dia melangkah di jalanan bukit yang menanjak.
Renata sampai di puncak bukit. Memandang ke sekelilingnya. Sepi sekali tempat itu. Tidak ada orang-orang di sana selain dirinya. Dia duduk bersila berpayungkan langit sore.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Renata dengan suara datar.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambutnya.
“Apakah kau baik-baik saja?” Renata bertanya canggung.
Angin berdesah menjawabnya.
“Maafkan kakak yang datang kesorean. Banyak sekali hal yang harus kakak urus.”
Suara Renata nyaris tidak terdengar di ujung kalimat.
“Kakak membawakan sesuatu. Ini dari Mama.”
Suara Renata bergetar.
Renata meletakkan buket di atas gundukan tanah.
“Selamat ulang tahun, adikku tersayang.”
Suara Renata semakin bergetar. Dia berusaha menahan linangan air mata dari balik  pelupuknya.
“Ulang tahun ketujuh belasmu pasti seru sekali, kan?” Renata mengusap kedua matanya. “Kamu merayakannya bersama para malaikat di surga.”
Tangis Renata pecah. Ingatannya menjajaki masa lalu. Tepat sebelas tahun yang lalu.
***
Pelita berlari-lari kecil menghampiri Renata yang sedang mengerjakan tugas Ilmu Pengetahuan Alam di meja belajarnya.
“Kakak Renata, Kakak Renata!” Pelita kecil berseru.
“Iya, kenapa sayang?” Renata meletakkan pulpennya. Membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Pelita.
“Aku punya PR yang sulit.” Pelita yang baru saja masuk sekolah dasar bercerita kepada kakaknya yang sudah kelas dua di sekolah menengah pertama.
“Apa PRnya?” Tanya Renata penasaran.
“Nomor satu. Apa arti nama kamu?” Pelita mengeja soalnya. “Apa arti namaku, kak?” Pelita bertanya kepada kakaknya.
Renata yang sebelumnya sedang mengerjakan PR IPA dengan materi cahaya tiba-tiba mendapat ide.
“Kalau kamu buka kamus, pelita itu artinya lampu. Jadi kamu menjadi penerang di dalam kegelapan.” Renata menjawab semampunya.
“Benarkah, kak?” Wajah Pelita terlihat berseri-seri.
“Ada lagi?” Renata kembali bertanya.
“Nomor dua. Apa cita-cita kamu? Apa alasannya?” Pelita kembali mengeja soalnya.
“Kamu tidak punya cita-cita, ya?” Renata menggoda Pelita.
“Cita-cita itu apa, kak?” Pelita bertanya polos.
“Cita-cita itu apa yang kamu inginkan. Mau jadi seperti apa kamu.” Renata menerangkannya dengan bahasa yang mudah dimengerti Pelita.
“Cita-citaku… Hm… Oh, iya! Aku ingin ke surga sama Mama, Papa dan kakak Renata! Bu guru bilang, di surga kita bisa mendapatkan apapun.”
Renata tertawa geli mendengar penjelasan adik satu-satunya. “Pelita, Pelita. Semua orang pasti punya cita-cita masuk surga. Cita-cita yang ditanyakan bu guru itu profesi. Maksudnya, kalau besar nanti kamu mau menjadi apa? Apakah kamu mau menjadi pengusaha seperti Papa, atau mau menjadi akuntan seperti Mama, atau menjadi guru seperti ibu guru di sekolah. Tapi, kita harus belajar yang gita supaya cita-cita itu bisa kita raih.” Jelas Renata.
“Oh…” Pelita terlihat seperti berpikir. “Aku mau menjadi seperti tante Elisa. Dokter! Aku ingin mengobati orang-orang yang sakit seperti tante Elisa yang selalu mengobati Pelita. Tante Elisa itu hebat sekali. Dia bisa menghilangkan rasa sakit yang selalu mengganggu Pelita.” Pelita menuliskan kalimat yang dilontarkannya ke dalam buku tulisnya.
Renata terpaku melihat adiknya. Tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Renata juga mengakui bahwa tante Elisa adalah dokter spesialis kanker otak terhebat di kotanya.
“Kakak Renata janji, ya, mau bantu pelita meraih cita-cita Pelita menjadi dokter.” Pelita berucap disela-sela menuliskan jawaban.
“Pasti, dong! Kakak juga akan selalu menjagamu. Kakak akan selalu membuatmu bahagia.” Renata menjawab mantap sembari mengelus-elus rambut Pelita. Sedangkan hatinya, bergetar menahan pilu.
“Ye. Tugasku sudah selesai.” Pelita menari-nari dengan girangnya.
Pelita berlari menuju pintu. Dan tiba-tiba… “Surprise! Selamat ulang tahun, Pelita!” Papa dan Mama muncul dari balik pintu. Membawakan kue tar berwarna merah muda untuk Pelita.
Saat kue potongan pertama sudah ada di atas piring kecil, Pelita mengambil sendok, lalu menyuapkan kue potongan pertama itu kepada kakaknya, Renata.
***
Di puncak perbukitan tengah-tengah kota. Renata masih duduk bersila berpayungkan langit.
“Pelita, sekarang Papa dan Mama sakit. Kamu mau tahu, siapa yang merawat mereka?” Renata mengelus-elus nisan putih di dekatnya. “Anak kembarnya tante Elisa yang dulu sering berkunjung ke rumah! Mereka sudah menganggap Mama dan Papa seperti orang tua mereka sendiri. Mereka baik sekali.” Pelita melanjutkan kalimatnya tanpa menunggu jawaban ‘iya’ yang tidak akan pernah ia dengar.
“Andaikan saja kamu benar-benar bisa menjadi dokternya Mama dan Papa.” Renata mengambil napas dalam-dalam. “Aku punya cerita tentang profesi yang kamu cita-citakan itu. Kamu pasti akan menyukainya, Pelita.”
Renata bercerita seolah-olah sedang berada di kamar Pelita. Menceritakan dongeng-dongeng dari berbagai negara yang tidak sempat ia ceritakan kepada Pelita. Sesekali ia harus berjuang melawan tangis yang tiba-tiba saja pecah.
“Pelita, kakak sangat merindukanmu. Bahkan jauh lebih merindukanmu dibanding saat kakak di negeri orang. Sekarang kau pergi lebih jauh dari rantauan kakak dulu. Jauh sekali.”
Renata tertunduk.
“Pelita, maafkan kakak yang pernah meninggalkanmu selama bertahun-tahun. Maafkan kakak yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Maafkan kakak yang pernah berjanji untuk selalu membuatmu bahagia.”
Ranata terisak di bawah langit yang telah berubah warna menjadi jingga.
“Pelita, singgahlah di tengah-tengah tidur lelap kakak. Walau itu hanya sebentar. Kakak hanya ingin memelukmu erat.”

* Selesai *

Sunday, 15 October 2017

Rasanya Dipercaya

Saya percaya kamu tanpa peduli apakah kamu memercayai saya juga atau tidak.

Waktu saya masih SMP, saya sering curhat kepada seorang tante tersayang tentang cinta monyet saya pada waktu itu. Nah, giliran si tante yang jatuh cinta – senyum-senyum sendiri tak karuan – saya selalu menunggu dia untuk bercerita, hingga akhirnya saya sengaja cerita lagi tentang si cinta monyet saya itu, dan bilang ke tante, “Masa saya sudah cerita banyak, tapi tante masih merahasiakan”, dan jawaban tante saya itu  sesederhana ini, “Firda bebas untuk cerita segala hal ke tante, tapi bukan berarti tante juga harus menceritakan semuanya ke Firda.” Bila ditanya bagaimana perasaan saya waktu itu, yah, kesal bin sebal, lah. Orang saya sudah bocorkan semua rahasia, tapi si tantenya malah diam-diam saja. Seolah si tante ini sangat tidak memercayai keponakannya. Tapi, bila ditanya bagaimana tanggapan saya sekarang, yah, mungkin waktu itu si tante melihat Firda sebagai bocah kecil yang baru saja menginjak usia remaja. Sepertinya bukan pelabuhan yang tepat untuk kapal curhatan tante berlabuh.

Siapa yang menyangka kalau kejadian sesederhana itu bakalan saya ingat dan jadikan pedoman beberapa tahun ke depan. Di masa-masa SMA, utamanya. Masa yang kata orang paling indah, paling membahagiakan, paling berwarna. Saya pun mengaminkannya. Meskipun belum seartus persen karena saat ini saya masih sedang dalam proses menyelesaikan masa kuliah. Boleh saja persepsi tadi berubah dan menetapkan bahwa masa yang paling menyenangkan adalah masa kuliah.

Sejujur-jujur-jujurnya, saya bukan tipe orang yang terbuka, tapi tidak juga tertutup, posisi saya mungkin ada di pertengahan antara keduanya. Meskipun saya tidak suka kalau banyak orang yang terlalu tahu tentang kehidupanku, saya tetap butuh satu dua teman yang harus tahu banyak tentang apa yang sedang saya rasakan. Terbukti, di SMA saya punya beberapa “kunci”. Kunci yang mengetahui sejarah perjalanan SMAku. Sekarang pun, di masa kuliah juga begitu, saya punya dua kunci yang ketika orang lain sibuk menduga-duga, kedua kunci itu bisa mengetahui dengan jelas jenis keresahan apa yang tengah saya rasakan.

Tentang dipercaya…

Hal-hal yang tidak terduga itu ketika benar-benar terjadi, rasanya lebih indah dibandingkan sekadar diberi kejutan ulang tahun. Entahlah. Mungkin karena saya jarang sekali diberikan kejutan ulang tahun. Skip. jangan anggap ini serius, apalagi anggap ini sebagai kode. Please.

Sebulan yang lalu, ketika saya baru saja mencolokkan pengisi daya ke ponsel, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di sosial media alias chat dari seseorang yang baruuu saja akrab. Mungkin karena hampir seminggu kami bersama-sama dalam rentetan agenda yang segitu padatnya. Sepadat jalanan ibu kota yang kami tatap dari jendela di malam itu. Tsah. Isinya? “fir”, “fir”, “curhat dong”, “lg tengkar nih ma cewe gue”, disertai stiker moon yang lagi bertekuk lutut sambil nangis di bawah awan berhujan.

Bagi sebagian dari kalian mungkin sedikit lebay, ya, eh baru begitu saja sudah kagetan. Tapi bagiku, wow. Saya memang sudah sering sekali mendapatkan pesan sejenis itu dari Ari, Dzul, atau siapa lah teman yang akrabnya sudah sampai memercayakan kegundahan hatinya kepada seorang Firda. Perempuan yang begitu mudahnya berkawan karib dengan makhluk yang bernama lelaki tanpa ada baper sedikit pun. Tapi, adalah sebuah pengalaman baru mendapatkan kepercayaan menceritakan kegundahan hati dari seorang teman yang akrabnya baru minggu kemarin.

Saya sendiri pun bingung mengapa orang-orang begitu mudahnya percaya kepada seseorang yang lain. Bahkan bingung sama diri sendiri. Bisa, ya, segitu mudahnya saya menceritakan segalanya ke Diah teman sebang saya waktu SMA, misalnya. Atau ke kunci-kunci lain tanpa takut rahasia-rahasia kecil itu akan merembes ke mana-mana. Sekaligus penasaran. Apa yang membuat Ari dan teman-teman yang lain segitu mudahnya memercayai saya sebagai buku diarinya. Mungkin karena setiap mereka curhat ada solusi yang saya tawarkan? Sepertinya sangat-sangat tidak. Mungkin karena nyaman? Iya, tapi nyamannya karena apa? Atau mungkin karena saya selalu menjaga apa yang ingin menjadi rahasia mereka? Sepertinya alasan ini sedikit masuk akal.

Tapi bagaimana dengan kepercayaan yang lain?

Kepada orang-orang yang memercayakan ide?

Kepada orang-orang yang memercayakan amanah?

Kejutan-kejutan sederhana itu pun muncul dari adik-adik penerus perjuangan. Entah itu OSIS, Forum Anak, dan adik dari payung-payung yang sama lainnya. Kak, saya mau ikut kegiatan ini, disuruh buat esai yang temanya ini. Kira-kira menurut kakak saya baiknya menulis tentang apa? Bagaimana kalau yang ini? Atau yang itu? Atau Kak, menurut kakak, kalau saya ambil jurusan ini, atau kursus ini, atau kursus di bimbel ini, akan efektifkah? Lebih baik yang mana? Atau Kak, saya disuruh baca buku sama senior tapi buku yang tentang ini, kira-kira buku apa yang bagus untuk saya baca? Atau Kak, susunan acara untuk fun walk nanti sebaiknya penampilan hiburan dulu atau sambutan-sambutan dulu?

Ternyata kepercayaan itu selalu dibangun dari hal-hal yang sederhana saja.

Dan yang tidak kalah mengejutkannya adalah, ketika saya yang jarang kelihatan batang hidungnya, saya yang selalu ogah-ogahan, saya tidak pernah menjadi bagian yang cukup penting, diberikan kepercayaan untuk merangkul amanah yang sebegitu besarnya bagi saya.

Kalau ditanya bagaimana perasaanku setiap kali mendapatkan kepercayaan, rasanya, tidak adil sekali bila saya harus membusungkan dada. Saya sadar bahwa dibalik semua limpahan kepercayaan itu, rasa syukurlah yang patut saya besarkan. Syukur karena ternyata masih banyak sekali orang-orang yang sudah berbaik hati memercayakan Firda, yang bukan psikolog, atau pun ahli baca situasi, untuk sekadar dimintai saran sederhana. Saya pun sadar, bahwa saya tidak punya hak apa pun untuk membuat orang lain percaya kepadaku, termasuk kepada orang-orang yang saya percaya sekali pun. Karena kepercayaan itu tidak dibangun atas dasar pemaksaan, ia murni berasal dari hasrat ingin mengeluarkan resah.

Pararararam~

Wednesday, 14 December 2016

Semua Orang Menangis, Sayang!

Oleh: Firda Amalia H

Semua orang menangis, sayang
Dikala hati bimbang
Pun bila hati gersang
Tak dipedulikan orang-orang

Semua orang menangis, sayang
Dikala harapnya hanya iming-iming
Asanya terpontang-panting
Hingga jauh ia ditendang

Semua orang menangis, sayang
Jangan mimpi kau tebang
Jangan cita kau gunting
Biarkan ia tetap tergantung

Semua orang menangis, sayang
Sorotan mata wajah berang
Telinga dipekikkan oleh bising
Pilu menjadi bumerang

Sumber: www.gambar.photo

Semua orang menangis, sayang
Jangan biarkan semangatmu tumbang
Oleh mereka yang menentang
Jadikan teguh impian kau pegang

Semua orang menangis, sayang
Jangan hiraukan suara-suara sumbang
Yang tak inginkan kau menang
Tetaplah dirimu tenang

Semua orang menangis, sayang
Biarpun badai mengguncang
Tak mengenggankan mekarnya kembang
Asal kau tidak goyang

Semua orang menangis, sayang
Alasannya tak begitu penting
Tengok saja pada siapa yang datang
Yang mengubah sedih jadi senang

Semua orang menangis, sayang
Lihatlah yang gagal di belakang
Untuk kau jadikan penopang
Masa depan yang cemerlang

Thursday, 8 December 2016

Adik-adikku yang Tengah Berkelana

Oleh: Firda Amalia H


Wahai adik-adikku yang masih belia
Di warung-warung pinggiran jalan kota
Di gang-gang sempit di bawah langit bercahaya
Yang meninggalkan kelas lewat jendela
Memanjat dinding dengan atap terbuka

Engkau pula adik-adikku yang terlena
Sumringah di pos-pos ronda
Menghabiskan malam hingga fajar menyapa
Bertemankan kepulan asap dari tembakau yang menyala
Dan dibuai gemerlap hampa

Engkau tak sadar apa yang tengah menimpa
Seolah menyanyikan alunan tanpa nada
Menari tanpa diiringi irama
Berlakon drama tanpa aba-aba
Berlari tapi tak tahu hendak ke mana



sumber: kompasiana.com

Asa bukan lagi yang utama

Harapan-harapanmu ditelan sirna
Tak pedulikan impian orang tua
Terlebih lagi dongeng generasi emas bangsa
Cita-cita hanyalah omong kosong belaka

Ketika orang-orang datang menghina

Berkata kau tak tahu norma-norma
Dan yang kau lakukan hanyalah dosa
Engkau hanya memalingkan muka
Memasang penyumbat di telinga
Tak kau pedulikan mereka yang bersua

Wahai adik-adikku yang memilih jalan berbeda
Akupun tak tahu harus berbuat apa
Engkau tersesat, dan orang-orang memandang sebelah mata
Berjalan normal seolah tak ada bahaya
Kemalanganmu, bukankah sebuah tanggung jawab bersama?

Dan untuk adik-adikku yang tengah berkelana
Aku ingin menitipkan cinta
Satu hal yang harus kupercaya
Penjagaan terbaikmu hanyalah doa
Yang kuterbangkan ke seluruh penjuru semesta


---
P.s.:
Puisi ini tercipta atas permintaan kanda Ojan, salah satu senior saya di kampus.
P.s.s.:
Kak Ojan menyerahkan puisi ini kepada Departemen Kemedsos IMA FEB UH, dan terpostinglah di official akun instagram IMA FEB UH.

Monday, 4 April 2016

Senja untuk Manusia Buas

Oleh: Firda Amalia H

sumber: dokumentasi pribadi


Ketika senja menyapa langit luas
Jingganya berpendar bak emas
Memantulkan kilau ke lautan lepas
Semua barang telah kau kemas
Langkah kaki membawamu bergegas
Pulang ke tempat melepas pulas
Penat di wajahmu terhias
Hari telah menjadi saksi tiap tetesan peluh yang terkuras
Lantas...
Seberapa bermaknakah kau hari ini wahai manusia buas?

----


Telah diupload di instagram (www.instagram.com/firdamliah) pada 2016-04-01, 18:54

Tuesday, 29 March 2016

Cerpen: Petuah Pengamen Losari

Oleh: Firda Amalia H
Merpati putih beterbangan dengan bebasnya di bawah langit sore. Desiran sepoi-sepoi menyapa tubuh yang baru saja bersandar pada bongkahan batu. Terlihat dari jauh kapal-kapal yang akan tiba dan baru saja beranjak dari dermaga. Ombak mengalun tenang menuju bibir pantai. Seakan tahu bahwa ia adalah tempat melepas penat, Pantai Losari memang selalu menyuguhkan pemandangan indah di sore hari.
Ketenanganku terusik ketika mataku beradu dengan mata seorang pemuda. Gitar cokelatnya mengalung. Celananya sobek. Kaos oblongnya terlihat dibalik jaket kulit yang ia kenakan. Rambut gondrong nyaris menutupi matanya. Seorang pengamen Losari yang nampaknya sebaya denganku atau bahkan lebih muda. Semakin ia menghampiri, semakin aku merasa cemas.
Tak lama kemudian, pemuda itu sudah tepat berdiri di hadapanku. Kugenggam erat tas jinjingku. Jantungku berdetak lebih cepat. Pikiranku mulai mengacau. Kulihat ke arah kanan dan kiriku. Sepi. Jika terjadi hal yang buruk, mungkin tak ada yang bisa menolongku. Melihat raut cemas dari wajahku, pemuda itu mulai memetik gitarnya.
“Ibu kota… Begitu sadis nasibmu. Rakyatmu terlantar, kelaparan, menjerit kesakitan atas pilu derita yang dialaminya. Tapi mengapa, kaum borjou tak pernah merasa dirinya di atas kuasa dan menenggelamkan asa para rakyat jelata…”.
Berharap segera lepas darinya, kuserahkan uang dua puluh ribu rupiah. Pemuda itu menatap lembaran berwarna hijau itu dengan lekat. Nampaknya kurang. Kukeluarkan rupiah lain berwarna biru tua. Bukannya malah pergi, pemuda itu duduk di sampingku, membuatku semakin resah.
“Kenapa ngasih sebanyak ini, kak?”, tanyanya.
Mulutku membungkam.
“Kakak bisa ngomong, kan? Kok diam?”, rupanya ia tak menyerah begitu saja untuk mendapatkan sebuah jawaban.
“Buat kamu, ambil aja, enggak usah banyak nanya”.
“Cuma mau tahu aja. Soalnya jarang ada orang yang mau ngasih jajan sebanyak ini. Kemarin-kemarin uang segini tuh hasil seharian. Nah, sekarang belum juga semenit, eh udah dapat”.
Seolah tak mengacuhkan resahku, pemuda itu terus berdalih.
“Orang-orang jaman sekarang tuh kak, paling ngasihnya seribuan doang. Masih baik kalau ngasih, kalau cuma dicuekin dan diusir, rasanya udah keterlaluan banget. Mereka seolah-olah gak ngehargain usaha kita. Padahal kalau menurut aku nih kak, jauh lebih mendingan ngamen daripada ngemis yang kerjanya cuma minta-minta doang”.
Mata kami kembali berjumpa. Ia melemparkan senyum kecil. Namun, raut wajahnya tak dapat menyembunyikan kekecewaan. Mungkin karena sedari tadi mulutku membisu atau karena sikap orang-orang yang tak acuh terhadapnya. Entahlah.
“Kakak mahasiswa, ya?”.
Aku mengangguk.
“Fakultas Ekonomi dan Bisnis, kan?”.
“Tahu darimana dia?”, gumamku dalam hati.
“Gak usah heran gitu, kak. Aku baca pin di tas kakak. Kak, sebagai mahasiswa di fakultas kakak itu harusnya kakak lebih banyak bersosialisasi sama masyarakat – apalagi masyarakat kecil seperti aku ini – yang sangat kurang dari segi ekonominya. Aku cuma satu diantara puluhan juta masyarakat di negeri ini yang mengharapkan kakak dan teman-teman kakak di fakultas kakak itu bisa memperbaiki nasib kami di masa depan”.
Aku menelan ludah. Pernyataannya barusan bagaikan bom yang baru saja mendarat tanpa aba-aba.
“Tapi aku percaya, kalau nanti kakak sudah kerja pasti bakalan jadi orang yang baik. Sekarang aja kakak mau ngasih uang sebanyak ini sama Pengamen Losari”.
Padahal aku mengeluarkan beberapa rupiah hanya agar dia cepat-cepat pergi dariku.
“Eh, makasih yah kak atas apresiasinya. Lagu yang tadi itu ciptaan aku sendiri, loh. Senang bisa bertemu sama kakak. Belajar yang tekun kak biar benar-benar dapat ilmunya, dan biar bisa jadi politikus yang intelek. Nanti kalau udah dapat jabatan di negeri ini, jangan lupa sama rakyat kecil”.
Ia lalu berdiri dari tempat duduknya.
“Langit udah mulai gelap, pamit dulu ya, kak”.
Ia beranjak diiringi mentari yang mulai menurun seolah akan tenggelam di dalam Laut Losari. Keheningan mulai meraba. Seluruh yang diucapkan pemuda tadi kini terngiang-ngiang di telingaku. Aku mulai bertanya-tanya kepada diriku sendiri. Apakah aku belajar untuk kemaslahatan bangsa di masa depan atau semata karena ingin mendapatkan gelar sarjana? Aku disadarkan oleh sebuah petuah dari Pengamen Losari.

-Selesai-

Monday, 29 February 2016

Cerpen: Dibalik Tangisanku

Oleh Firda Amalia H

“Ayolah, jangan nangis lagi, Din!” Kata Suci seraya mengelus pundak Dina.
“Tidak, Ci! Aku tidak mau berhenti nangis!” Ucap Dina tersedu-sedu.
“Memangnya ada masalah apa lagi kamu dengan ibumu?” Tanya Suci.
“Aku capek, Ci! Ibuku tidak bisa mengerti aku!” Teriak Dina.
Pembicaraan mereka sempat terhenti ketika Bik Ratih, ibu Suci membawa secangkir bajigur dan sepiring pisang goreng untuk mereka. Siang itu, hujan deras disertai kilat dan petir. Dina sedang berada di rumah sahabatnya, Suci bercerita tentang sikap ibunya yang terlalu memanjakannya.
“Kok perempuan tangguh sepertimu ini bisa nangis? Ada apa, nak?” Tanya Bik Ratih.
“Bibi..” Kata Dina yang lalu memeluk ibu sahabatnya.
“Jangan cengeng gitu ah, Din!” Ujar Suci.
“Aku nangis bukan berarti aku cengeng, tapi aku sudah terlalu sabar menghadapi ibu!” Kata Dina.
“Kamu tahu masalah Dina apa, Ci?” Tanya Bik Ratih kepada anaknya.
“Tidak tahu, Bu! Dia datang-datang eh langsung nangis. Yang dia sebutin cuman ibunya. Din, jangan putus asa gitu dong! Nanti ibu kamu pasti ngerti apa yang kamu rasain!” Nasihat Suci pada Dina sahabatnya.
“Tidak, Ci! Aku tidak pernah putus asa, kok! Malahan aku mati-matian mempertahankan segala kemauanku yang selalu ditentang ibu!” Balas Dina.
“Ibu kamu sangat sayang sama kamu. Dia tidak mungkin melarangmu kalau hal itu wajar kamu lakukan. Kamu anak perempuan satu-satunya di keluargamu. Wajarlah kalau orang tuamu selalu melebih-lebihkanmu. Renungkan itu, Nak!” Ujar Bik Ratih.
“Ibu itu sangat menyebalkan, bi. Aku tidak mau terus-terus dimanjakan. Aku sudah capek dimanja terus. Lagian, aku kan sudah besar, sudah tahu mana yang salah dan mana yang benar” Ucap Dina kesal.
“Din, coba bayangkan kalau seandainya kamu jadi Tina. Kamu tahu kan kalau ibu Tina itu sudah meninggal. Padahal, Tina masih sangat membutuhkan ibunya. Setiap ia melihat kita dan teman-teman bersama ibu kita, dia pasti menangis. Dia sedih karena ibunya telah pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Sudah tidak ada lagi yang memerhatikan dia. Lah, kamu kok malah tidak mau sih punya ibu?” Suci terus mencoba meredamkan tangis sahabatnya.
“Nak, kamu harusnya bersyukur mempunyai seorang ibu yang sangat sayang sama kamu. Tidak ada seorang ibu yang tega melihat anaknya sedih dan menderita. Sakit hati yang kau rasakan saat ini tidak sebanding dengan rasa sakit ketika ibumu melahirkanmu. Disitulah perjuangan dan pertarungan hidup dan matinya. Sekarang, kau menangisi ibumu yang sangat sayang padamu. Seolah-olah, kamu tak menginginkannya. Sangat berbanding terbalik saat ibumu akan melahirkanmu. Saat itu, ia tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Kau tahu apa arti di balik air mata itu? Air mata itu melambangkan begitu kerasnya perjuangan seorang ibu. Berjuang melawan rasa sakit yang ia rasakan. Berjuang mempertahankan nyawa anaknya. Bahkan ia rela menukar nyawanya dengan nyawa anaknya. Kenangan terindah bagi seorang ibu ialah saat ia tersenyum melihat kelahiranmu, bayi yang begitu menggemaskan. Betapa senang hatinya saat mendengar tangisan pertamamu. Ia merasa bangga karena telah melahirkanmu. Ia bangun tengah malam untuk memberikanmu ASI agar kamu dapat bertahan hidup. Sadarkah kamu akan hal itu, nak? Beruntunglah kamu bisa melihat dan memandangi wajah ibumu. Tapi, bagaimana dengan anak yang ditinggal ibunya sejak ia kecil atau bahkan baru  lahir? Apakah kau tak membayangkan bagaimana perasaan anak itu? Ibumu telah merawatmu dari kecil hingga besar dan mengajarimu cara berperilaku yang baik. Ingatkah pula saat ibumu mengajarkanmu kata yang indah yaitu, ‘Mama’? Hingga akhirnya kamu tumbuh menjadi sosok gadis yang cantik dan cerdas? Itu hanya sebagian kecil dari segala hal luar biasa yang dilakukan seorang ibu. Bibik rasa, tak ada seorang pun yang mampu melukiskan betapa besarnya perjuangan seorang ibu. Ada sebuah kisah ketika Rasulullah ditanyai oleh seorang lelaki, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?’, Rasulullah pun menjawab, ‘ibu’, lau lelaki itu kembali bertanya, ‘lalu siapa?’, Rasulullah kembali menjawab ‘ibu’, kemudian lelaki tadi menanyakan hal yang sama, ‘kemudian siapa?’, Rasulullah menjawab lagi ‘ibu’, untuk keempat kalinya lelaki itu bertanya, ‘selanjutnya siapa lagi?’, barulah Rasulullah menjawab ‘ayah’. Bayangkan, Rasulullah telah menyebut ibu tiga kali sebagai orang yang harus kita muliakan. Satu hal lagi yang harus selalu kamu ingat, berbuat baik kepada kedua orang tua itu salah satu jihad di jalan Allah, nak!” Kata Bik Ratih yang berusaha menyadarkan Dina.
Air mata Dina mengalir semakin deras, sederas hujan di siang itu. Ia membayangkan betapa besar perjuangan ibu yang merawatnya dari lahir sampai sekarang ini. Bik Ratih telah memberinya suatu pelajaran “Dibalik tangisanku karena ibu, ternyata aku tidak menyadari betapa besarnya pengorbanan ibu untukku”. Selama ini Dina tak pernah menyadari betapa cinta ibu terhadapnya melebihi apapun di dunia ini, cintanya mungkin lebih dalam dari samudera dan lebih luas dari jagad raya.
“Apa ibumu tahu kau ada di sini?” Tanya Suci.
“Tidak, ibu tidak tahu aku di sini.” Jawab Dina
“Kau harus memberitahunya, nak!”
Saat ingin menelepon ibunya, betapa kagetnya ia saat melihat ada empat puluh panggilan tidak terjawab dari nomor papanya. Dan saat ia menelepon balik, nomor papanya sudah tidak aktif. Tentu saja ini adalah hal yang amat sangat penting. Biasanya, jika hal itu tidak begitu penting papanya hanya beberapa kali saja meneleponnya. Hanya saja, sesampainya di rumah, Dina langsung diberi tahu akan hal tersebut.
“Ada apa yah papa menelepon aku sampai ada empat puluh panggilan tak terjawab. Papa tidak biasanya seperti ini. Pasti ini hal yang sangat penting.” Gumam Dina dalam hati.
“Ada apa, Din?” Tanya Suci.
“Tidak ada apa-apa, kok! Hujan sudah reda nih, antar aku pulang, yah? Takut nanti orang rumah pada khawatir” Jawab Dina.
“Ya, gitu dong. Pastilah aku antar kamu pulang!” Ucap Suci.
“Kalian hati-hati, yah! Jangan ngebut bawa sepeda! Awas, biasanya habis hujan begini jalananya pasti licin!” Nasihat singkat Bik Ratih.
Jarak rumah Dina dan Suci tidak terlalu jauh. Sekitar sepuluh menit dalam perjalanan, mereka sudah tiba di depan kompleks perumahan Citra Harapan. Betapa kagetnya mereka ketika melihat bendera putih berkibar di pintu kompleks tempat Dina tinggal itu.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun.” Ucap Suci dan Dina serentak, kepanikan sangat jelas terlihat dari raut wajah mereka.
“Pak, kalau boleh tahu siapa yang meninggal?” Tanya Suci kepada salah seorang satpam yang sedang berjaga.
“Itu Dek, keluarga pengusaha terkenal yang tinggal di Blok-C”  Jawab pak satpam singkat.
“Loh, itukan blok rumah aku, Ci! Ayo kita harus cepat-cepat sampai nih!” Ucap Dina yang kepanikannya semakin memuncak.
Betapa hancur hati Dina ketika melihat bendera putih di depan rumahnya. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Ia kemudian berlari ke pintu rumahnya, disusul Suci di belakangnya. Tidak seorang pun orang di rumah tersebut menyadari kehadirannya.
Tatapan Dina lurus ke arah jasad yang ditutupi kain kafan. Ia melihat papanya sedang menangisi jasad itu. Sosok ibunya lalu terbayang di pikiran Dina. Ia teringat oleh perkataan Bik Ratih. Membayangkan saat ibunya menangis karena kenakalannya, mengingat saat ibu memarahinya, saat ibu menyuapinya, saat ibu menjadi teman curhatnya, saat ibu mengantarnya saat pertama kali masuk sekolah, saat ibu menyanyikan lagu tidur untuknya, membuatnya merasa tenang, membayangkan wajah ibu selagi senyum, marah, tertawa dan bahagia. Segala memori bersama ibu terputar seketika itu juga
“Bu, aku belum pamitan, belum meminta maaf, aku juga belum pernah membahagiakan ibu. Aku belum menjadi anak yang baik, aku tidak pernah menyadari betapa besar perjuangan ibu. Aku belum siap ditinggal ibu! Belum siap! Kini aku baru sadar betapa sayangnya ibu padaku, ibu sangat perhatian padaku, tak pernah sekalipun ingin menyakitiku. Ibu, jangan pergi dulu, yah? Aku masih membutuhkan ibu! Aku belum sempat berpamitan dan meminta maaf kepada ibu” Katanya diiringi isak tangis.
“Dina?” Ucap Suci
“Iiibuuuuuuuuuuuuu!!!” Teriak Dina membuat semua orang berbalik ke arahnya.
“Dina?” seseorang dengan suara halus menepuk pundak Dina.
Dina lalu berbalik ke arah orang  itu.
“Ibu” Kata Dina sambil memeluk wanita itu.
“Ada apa, Dina? Kenapa kamu teriak memanggil ibu, sayang?” Tanya wanita itu.
“Bu, maafin Dina yang pergi tanpa pamit sama Ibu!” Dina berkata sambil memeluk erat ibunya.
“Iya sayang. Bik Ratih sudah kasih tahu ibu kalau tadi kamu main sama Suci!” Kata wanita itu.
“Yang ditutupi kain kafan itu jasad siapa, tante?” Tanya Suci.
“Oh, itu jasad seorang petani yang tersambar petir di kaki gunung. Papa Dina menemukannya saat melakukan penelitian di tempat itu. Setelah papa Dina melihatnya baik-baik, ternyata dia orang yang pernah menyelamatkan papa Dina saat terhanyut di sungai lima tahun yang lalu” Jelas Ibu Dina
“Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun.” Dina dan Suci turut berbela sungkawa.

-SELESAI-

Tuesday, 23 February 2016

Setilik Kisah Meraih Toga

Oleh: Firda Amalia H

sumber: kompasiana.com

Detik demi detik berlalu. Masa demi masa berganti seiring dengan tumbuhnya kedewasaan diriku.
Tidak terasa, aku telah melalui serangkaian proses perjalanan hidup yang sangat berarti. Bertahun-tahun menimba ilmu di bangku sekolah, hingga saat ini aku bisa tersenyum bangga menyandang status sebagai mahasiswi. Dan akan terus berjuang memberi sumbangsih kepada ibu pertiwi.
Aku masih ingat segala kisah yang terjadi sebelum aku bisa menjadi diriku seperti sekarang ini.
Orang tua.
Bagiku, mereka punya andil yang sangat besar dalam hidupku.
Aku masih ingat betapa mereka selalu menyemangati setiap pekerjaan yang kulakukan, mengingatkanku bahwa aku bisa, betapa ridho yang mereka berikan kepadaku menambah peluang diriku untuk menggapai segala mimpi yang telah kucanangkan sejak dahulu, betapa tiada hentinya bibir mereka memanjatkan doa kepada Allah untuk melancarkan segala usahaku.
Di saat aku jatuh, mereka selalu siap untuk membagi tenaganya agar aku bisa bangkit kembali.
Apa yang telah mereka berikan, tak akan pernah bisa terhapus dari memoriku, akan kukenang sepanjang masa perjuangan mereka yang menjadikan diriku jauh lebih baik dari hari-hari kemarin.
Akupun berjanji kepada jiwa dan ragaku.
Akan kubahagiakan mereka.
Akan kuantarkan mereka kepada air mata haru akan kebanggaannya kepada diriku yang telah ia besarkan.
Tidak akan kusia-siakan didikan mereka selama bertahun-tahun.
Paling tidak, aku ingin melihat haru bangganya ketika di kepalaku melekat sebuah toga.
Agar mereka pun menjadi tahu, betapa beruntungnya aku dididik dan dibesarkan oleh mereka.