Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, 19 December 2017

Apa Kah itu Keren? (Keren Kah?)

Apa kah itu keren?
Sekedar mengikuti yang sedang tren
Tak khawatir akan jadi permanen
Yang akhirnya melahirkan temperamen
Kepada mereka yang ingin dianggap tulen
Duh, kebiasaan buruk kok dijadikan panen

Apa kah itu keren?
Terbawa arus perubahan zaman
Terseret pun engkau tak melawan
Yang kacau balau jadi panutan
Tak peduli walau sikap seperti setan
Malu kau sembunyikan di bawah telapak tangan

Apa kah itu keren?
Ketika yang viral wajib untuk ditonton
Meski pun tema selalu monoton
Manfaat sekecil fito-plankton
Racunnya lebih mematikan dari mercon
Menjadikan hati lebih keras dari beton

Apa kah itu keren?
Menggelengkan kepala mata dipicingkan
Melemparkan batu-batu hujatan
Seolah tak mengenal kata perasaan
Perihnya melebihi cambukan rotan
Selamat tinggal wahai norma dan aturan

Apa kah itu keren?
Bencana besar telah tiba di halaman
Sebentar lagi akan merusak taman-taman
Gendang ditabuh mengisyaratkan ancaman
Tapi hanya sedikit yang mendengarkan alunan
Berbisik ke dalam nurani menyerukan panggilan

Lekas bergerak, bungkam jangan!
Luruskan shaf merapatkan barisan
Mari bersama lakonkan peran
Yang terlanjur lupa tolong ingatkan
Tuhan pasti bukakan jalan

Atas moral yang dikepung kebuntuan

Thursday, 8 December 2016

Adik-adikku yang Tengah Berkelana

Oleh: Firda Amalia H


Wahai adik-adikku yang masih belia
Di warung-warung pinggiran jalan kota
Di gang-gang sempit di bawah langit bercahaya
Yang meninggalkan kelas lewat jendela
Memanjat dinding dengan atap terbuka

Engkau pula adik-adikku yang terlena
Sumringah di pos-pos ronda
Menghabiskan malam hingga fajar menyapa
Bertemankan kepulan asap dari tembakau yang menyala
Dan dibuai gemerlap hampa

Engkau tak sadar apa yang tengah menimpa
Seolah menyanyikan alunan tanpa nada
Menari tanpa diiringi irama
Berlakon drama tanpa aba-aba
Berlari tapi tak tahu hendak ke mana



sumber: kompasiana.com

Asa bukan lagi yang utama

Harapan-harapanmu ditelan sirna
Tak pedulikan impian orang tua
Terlebih lagi dongeng generasi emas bangsa
Cita-cita hanyalah omong kosong belaka

Ketika orang-orang datang menghina

Berkata kau tak tahu norma-norma
Dan yang kau lakukan hanyalah dosa
Engkau hanya memalingkan muka
Memasang penyumbat di telinga
Tak kau pedulikan mereka yang bersua

Wahai adik-adikku yang memilih jalan berbeda
Akupun tak tahu harus berbuat apa
Engkau tersesat, dan orang-orang memandang sebelah mata
Berjalan normal seolah tak ada bahaya
Kemalanganmu, bukankah sebuah tanggung jawab bersama?

Dan untuk adik-adikku yang tengah berkelana
Aku ingin menitipkan cinta
Satu hal yang harus kupercaya
Penjagaan terbaikmu hanyalah doa
Yang kuterbangkan ke seluruh penjuru semesta


---
P.s.:
Puisi ini tercipta atas permintaan kanda Ojan, salah satu senior saya di kampus.
P.s.s.:
Kak Ojan menyerahkan puisi ini kepada Departemen Kemedsos IMA FEB UH, dan terpostinglah di official akun instagram IMA FEB UH.

Monday, 4 April 2016

Senja untuk Manusia Buas

Oleh: Firda Amalia H

sumber: dokumentasi pribadi


Ketika senja menyapa langit luas
Jingganya berpendar bak emas
Memantulkan kilau ke lautan lepas
Semua barang telah kau kemas
Langkah kaki membawamu bergegas
Pulang ke tempat melepas pulas
Penat di wajahmu terhias
Hari telah menjadi saksi tiap tetesan peluh yang terkuras
Lantas...
Seberapa bermaknakah kau hari ini wahai manusia buas?

----


Telah diupload di instagram (www.instagram.com/firdamliah) pada 2016-04-01, 18:54