Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts
Showing posts with label Catatan Harian. Show all posts

Monday, 1 January 2018

#REWIND2017 ala Me

Segala sesuatu akan terbalaskan meskipun dalam bentuk yang berbeda.

Di tahun 2017 saya merasa banyak sekali pelajaran berharga yang telah saya terima. Saya selalu percaya bahwa kejutan-kejutan yang baik akan selalu datang untuk orang-orang yang selalu berusaha. Dan orang-orang yang selalu berusaha akan menganggap segala takdir hidup yang telah digariskan kepadanya adalah sesuatu yang baik dan bermakna. Tahun ini, saya betul-betul merasakan dengan nyata betapa besar nikmat yang Tuhan berikan kepada saya. Nikmat yang tak putus-putus.

Di tahun 2017 saya berjumpa dengan buanyak sekali orang-orang yang keren nun patut dijadikan panutan oleh kids jaman now. Tak dapat dihitung lagi dan saya mohon maaf karena tidak dapat menyebutkannya satu per satu karena akan sangat panjang dan takut ada yang kelupaan. Mulai dari public figure, mentor, fasilitator, teman sebaya bahkan mereka yang jauh lebih muda, yang karena kesederhanaan sampai kekritisannya sehingga saya sekagum itu pada mereka-mereka semua.

Dan semakin saya bertemu dengan orang-orang baru itu, semakin sadar pula bahwa saya sekurang ini. Perlu masih banyak belajar karena ilmu itu tidak akan pernah cukup – bukan kah Tuhan juga memerintahkan agar kita selalu menuntut ilmu?

Di bangku kuliah, meskipun rentang IPK seperti biasa, mirip roller coaster yang di semester ganjil selalu naik dan di semester genap selalu turun, namun ada banyak sekali pelajaran berharga yang bisa saya renungi. Di semester lima misalnya, di antara kesibukan menjadi pendamping item akustik inaugurasi yang kadang pulang saat matahari sudah terbenam dan bergelut dengan tugas-tugas sebagai fasilitator Roots yang membuat saya harus bolak-balik Tamalanrea-Pallangga di jam kuliah, ternyata Tuhan masih berbaik hati memberikan nilai sempurna untuk mata kuliah yang diampu oleh dosen yang konon paling horor seprodi. Di situ saya belajar bahwa kebaikan akan selalu terbalas meskipun dalam bentuk yang berbeda. Boleh jadi nilai A itu bukan karena hasil belajar saya saja, melainkan karena ketulusan saya dalam bekerja di kepanitiaan, atau karena H-2 sebelum mid saya masih menyempatkan diri untuk berkumpul bersama orang-orang yang selalu memberikan support luar biasa kepada saya. Kuncinya satu: tulus.

Di saat saya gagal, artinya saya perlu melakukan refleksi kepada diri sendiri. Pasti ada sesuatu yang salah sehingga diri ini mendapatkan teguran. Serupa dengan kisah yang saya tuangkan di tulisan sebelumnya. Bisa jadi keborosan saya bukan karena adanya harbolnas dengan diskon gede-gedan, melainkan karena sedekah saya masih kurang sekali. Bisa jadi schedule yang tiba-tiba berubah dan saling bertabrakan satu sama lain bukan dikarenakan kecerobohan dari panitia yang seenaknya merubah jadwal, melainkan karena saya ogah-ogahan melaksanakan ibadah di awal waktu. Secucoklogi itu, tapi memang logis, kan?

Saya tidak pernah menyangka 2017 akan sehectic itu. Dan saya sangat bersyukur karena masih diberi pemikiran untuk merefleksikan segala yang terjadi. Selamat menyambut 2018 dengan segala ke-hectic-annya. Semoga kita senantiasa mendapatkan pelajaran atas hal-hal yang terjadi pada diri kita.

Maka Nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan?

Happy New Year and (still) Happy Holidays!

Saturday, 23 December 2017

Seremoni 22 Desember

Setiap akan meninggalkan rumah, saya pasti mencium tangan bahkan kening ibu. But, is it enough?

22 Desember 2017 di Insta story, whatsApp story, dan wall Facebook, ramai berhiaskan dengan tulisan “Happy Mother’s Day!”. Sepaket dengan selfie bersama ibu tercinta. Ada juga yang mengunggah selembar foto kenangan bagi mereka yang telah ditinggal sang ibunda. Maka, semoga ibu kita semua senantiasa berada dalam lindungan-Nya dan kelak ditempatkan di surga-Nya. Aamiin.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat menulis di insta story, dan saya pun menjadikannya highlight. Sebagaimana janji saya di salah satu kalimatnya bahwa saya akan menceritakannya di blog, maka terciptalah tulisan ini. Tulisan dari proses perenungan. Padahal, jauh sebelum tulisan ini dipikirkan, saya sudah menuliskan kerangka tulisan bertemakan family time, yang inti dari apa yang akan saya sampaikan, sebenarnya mirip. Tapi, hingga tulisan ini saya buat, entah mengapa saya tidak pernah tahu bagaimana cara menyelesaikan tulisan tersebut.

Highlight-nya seperti ini:

Terkadang aku ingin punya kemampuan untuk membelah dan mereplika diri.

Dan satu-satunya paragraf yang ada di tulisan itu adalah:

“Salah satu hal yang paling aku benci adalah ketika keluarga jauh yang sangat jarang kutemui datang berkunjung, dan di saat yang bersamaan aku harus menghadiri rapat atau kegiatan lain di mana aku menjadi salah satu orang (sok) pentingnya. Dan aku sudah sangat sering berhadapan dengan hal tersebut.”

Suatu waktu di masa liburan SMA, seorang tante yang sejak kecil saya anggap Mama sendiri berpesan bahwa perbanyaklah ciptakan momen berkesan bersama keluarga. “Walaupun momen sederhana, tapi itu cukup untuk membuatmu tersenyum. Momen berkesan tidak harus pergi ke tempat wisata, justeru biasanya momen berkesan itu akan datang tanpa direncakan. Sesedarhana kamu dan adikmu rebutan mie kremes.”

Teguran apakah yang gerangan saya maksud di insta story yang kujadikan highlight itu?

Hari Senin, 18 Desember 2017, siang, waktu itu saya sedang berada di Kampus Teknik Unhas menghadiri suatu kegiatan. Setelah makan siang, saya mengecek Hp yang sedang diisi daya sejak beberapa jam yang lalu. Dan ketika saya mengaktifkan data, muncullah beberapa miscall dari tante yang pada hari itu bersama ibu saya mengunjungi kondangan sepupu jauh. Ada pesan juga yang mengatakan bahwa ibu saya sedang berada di rumah sakit, habis kecelakaan. Pesan itu sejam yang lalu.

Pernah mendapatkan situasi tersebut? Bagaimana rasanya? Apa yang pertama kali kamu lakuakan? Kalau tidak pernah, semoga tidak akan pernah. J

Berdebar-bedar. Tentu saja. Istighfar. Bertanya-tanya keadaan ibu saat itu sambil menelepon sang tante. Histeris? Tidak. Menangis? Tidak. Panik? Sedikit. Kamu bisa tanyakan ekspresiku pada seorang teman. Andry namanya. Akhirnya telepon saya diangkat, tante bilang lukanya sedang dibersihkan. Sudah hampir selesai, dan akan pulang ke rumah. Tante suruh matikan telepon karena sedang kerepotan memegang banyak barang. Nada suaranya baik-baik saja. Maka aku pikir semuanya sudah aman. Tapi, hati ini tetap gelisah. Telepon lagi, tanyakan ibu nanti pulang naik apa. Sempat berpikir untuk ikut acara sampai selesai, tapi ternyata rasa ingin tengok ibu lebih besar, jadilah saya meninggalkan tamu jauh, para petinggi dari perusahaan yang telah memberikan beasiswanya pada saya.

Sesampainya di rumah sakit bahkan ketika melihat kondisi ibu yang ternyata tidak se-baik-baik-saja yang kupikirkan, entah mengapa air mataku tidak juga mengalir. Tapi jangan tanya debar-debar di jantung ini yang makin lama makin kencang. Satu, karena saya tidak mau menangis di depan ibu yang pada akhirnya bisa jadi akan membuatnya sedih. Dua, mungkin kepanikanku mengalahkan kesedihanku. Tiga, karena rasa syukurku. Saya merasa teramat sangat bersyukur karena ternyata Allah masih memberikan kesempatan untuk berbakti lebih lama lagi pada ibu.

Kata orang yang entah siapa itu benar, hujan mampu memancing air mata terjatuh. Ketika hujan deras terdengar mengamuk di atas atap rumah sakit, membasahi aspal-aspal, saya keluar ruangan IGD bagian bedah – yang mulai ramai karena kedatangan satu pasien lagi. Menuju jendela di sudut lorong. Menghayal beberapa detik, sontak air mataku terjatuh.

Ya, mungkin ini adalah teguran dari-Nya. Teguran agar saya rehat sejenak dari segala aktivitas yang begitu menyibukkan, membuat saya jarang di rumah. Agar saya lebih banyak lagi memanfaatkan waktu libur semester ini dengan ibu dan keluarga. Mungkin hanya dengan cara seperti ini aku bisa dicegah.

Ibu tidak pernah melarangku. Ya. Tidak pernah. Beliau selalu menunjukkan kekhawatiran, tetapi tidak sampai melarang. Ibu tidak pernah melarang pulang saat matahari sudah terbenam bahkan menginap di kost teman, meskipun teleponnya tidak pernah absen, bersama kalimat andalannya, “hati-hati, jaga diri baik-baik.” Ibu sangat mempercayai saya. Kepercayaan yang akhirnya membuat saya sering lupa bahwa saya adalah seorang anak perempuan pertama dan satu-satunya yang juga punya kewajiban membantu ibu mengurus rumah tangga.

Produktif boleh, tapi jangan sampai lupa family time.

Selamat liburan dan selamat berbakti!
-


P.s.: Kami mengucapkan terima kasih banyak atas doa-doa yang mengalir untuk ibu kami. Semoga doanya kembali kepada teman-teman sekalian! Selamat hari Ibu, Ibu! Maaf karena Firda belum bisa jadi apa-apa. Dan selamat hari Ibu untuk seluruh ibu di dunia. Semoga senantiasa berada dalam lindungan-Nya. Aamiin.

Friday, 24 November 2017

Belajar Lebih Peka

Kalau kamu merasa nyaman mem-bully seseorang, berarti ada masalah dengan hati kamu.
Tepat setahun yang lalu, saya telah membuat vlog tentang perundungan alias bullying dengan harapan orang-orang bisa sedikit peka melihat fenomena perundungan yang makin ke sini makin menjadi-jadi. Yang lebih parahnya lagi adalah seseorang tidak sadar kalau dia telah melakukan tindakan perundungan. Melihat semuanya baik-baik dan normal-normal saja. Please, open your eyes, buddies!
Kalau kamu menggunakan kekuatan fisik atau psikologis untuk melemahkan seseorang secara sengaja, berulang-ulang dan ada perbedaan kekuatan antara kamu dan seseorang itu, berarti kamu telah melakukan perundungan.
Sengaja. Seseorang kalau ditanya mengapa mereka melakukan perundungan, maka sebagain besar akan menjawab hanya sebatas bercanda supaya lebih akrab. Nah, ini menarik untuk dibahas. Terkadang saya mendapat pertanyaan semacam, “Eh, bagaimana kalau saya membully seseorang, tapi orangnya tidak marah dan merasa senang dibully?”. Tunggu, senang? Masalahnya adalah kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi pada perasaan seseorang. Bisa saja dia menyunggingkan senyuman bahkan tawa padahal hatinya sedang rapuh. Saya pikir semua manusia pandai bersandiwara dengan jenis ini. Baru mau berhenti ketika dia sudah memperlihatkan kelemahan lewat air matanya?
Berulang-ulang. Manusia kalau sudah asyik, terkadang suka lupa. Kalau dilakukan sekali – dua kali, bisa jadi masih dimaafkan. Mungkin dia khilaf. Tapi, kalau sudah berulang-ulang, maka khilafnya sudah melampau batas sehingga tidak wajar lagi disebut khilaf.
Ada perbedaan kekuatan. Merasa kita jauh “lebih baik” atau “lebih pantas” dari seseorang juga bisa mengindikasi terjadinya perundungan. Kaya-miskin, senior-junior, dan sejenisnya. Yang lebih miris adalah perbedaan fisik seperti tinggi-pendek, gemuk-kurus, mancung-pesek, lurus-keriting, hitam-putih, padahal apa yang melekat pada tubuh seseorang adalah karunia yang sudah diberikan Tuhan. Jadi, ketika dihina, berarti sama dengan menghina pemberian Tuhan, bukan? Let’s think smart!
Satu pernyataan lagi yang selalu membuat saya ber-huh setiap kali diterbangkan kepada saya. Apalagi kalau bukan alasan konyol yang mengatakan kalau perundungan itu bisa meningkatkan mental seseorang. Gimana nih? Saya harus jawab apa? Memang benar seperti itu, kah?
Kalau sesuatu itu dianggap baik, kenapa harus dilarang dan ditentang? Kalau sesuatu itu dianggap baik, kenapa banyak organisasi yang berbondong-bondong untuk memusnahkannya? Kenapa UNICEF, misalnya, rela menghabiskan anggaran sampai milyaran atau bahkan trilyunan untuk menerapkan program-program pencegahannya ke seluruh penjuru dunia? Saya pikir riset yang dilakukan oleh mereka jauh lebih mendetail daripada sekedar ke-soktahu-an kita.
Jawaban yang menurut saya paling tepat adalah bukan perundungan yang membuat mentalnya semakin kokoh, tapi karena semangat dan dukungan yang diterima dari orang-orang sekeliling dan lingkungannya. Dan situasi seperti ini bisa diperoleh bukan hanya setelah mengalami perundungan. Kapan? Ketika dia mendapatkan ujian hidup, misalnya. Bukan dari sesuatu yang disengaja. Toh, pun tidak semua orang ternyata bisa bangkit dari keterpurukannya. Sebagian dari kalian mungkin masih fresh ingatannya dengan berbagai kasus bunuh diri yang terjadi karena perundungan. Atau mau diingatkan kembali?

Check it out...

(gambar diambil dari power point yang dibuat sama mas Derry)

Jaman now, perundungan tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi di dunia maya juga. Jenis ini disebut juga cyber bullying, perundungan tipe keempat setelah fisik, verbal dan sosial. Cyber bullying ini menyebabkan komentar hate speech bertebaran di mana-mana. Tanpa peduli kenal atau tidak. Seakan lupa kalau semua yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawabannya, sekecil dzarrah pun, seremeh mengetikkan kata di kolom komentar.
Jadi, apa yang harus kita lakukan, buddies? Sepertinya tingkat kepekaan kita masih kurang. Saya sangat setuju bila ada yang mengusulkan untuk menegur secara langsung orang-orang yang melakukan tindakan perundungan, menasihatinya dengan pelan. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah ketika orang tersebut lebih tua dari kita. Alih-alih ucapan terima kasih, yang kita dapatkan hanyalah kalimat-kalimat menyudutkan serupa, “eh, anak kecil kok menasihati orang tua yang jauh lebih berpengalaman menelan banyak garam”. Meskipun saya percaya bahwa masih banyak orang-orang yang ingin mendengarkan pendapat anak kecil seperti saya.
Kalau tidak mau mengobati, ya kita harus mencegah. Kalau tidak bisa melarang, setidaknya kita tidak melakukan hal yang sama. Kalau belum bisa mengajak orang lain, setidaknya kita mulai dari diri kita sendiri. Berdoa saja semoga besok lusa akan ada seseorang yang mau mengikuti langkah kita. Kita memang tidak bisa memaksa orang lain, tapi kita bisa mendoakannya untuk berubah menjadi lebih baik. Saya pun butuh doa-doa dari buddies sekalian. Dan yang paling keren adalah ikut terjun langsung di program-program yang ada. Banyak, kok, komunitas-komunitas dan NGO yang masih peka melihat masalah ini! – yang mungkin sebagian besar orang menganggapnya bukan masalah serius.
-

P.s. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah menyadarkan saya. Orang-orang yang membagikan ilmunya seputar perundungan kepada saya. Mas Derry, Miss Emily, Miss Lucy, Kak Ju, dan rekan-rekan UNICEF lainnya. Orang-orang yang memberikan kesempatan untuk terlibat, Bu Faridah, Bu Farida, dan bapak ibu pahlawan Yayasan Indonesia Mengabdi lainnya. Kak Ilo, Kak Irma, Kak Sinta, Kak Yusri, dan Auzan, teman-teman fasil yang selalu semangat menyebarkan virus anti-bully. Selamat satu tahun berkolaborasi!

Wednesday, 8 November 2017

Kids Jaman Now

Kids jaman now itu haus perhatian, benar-benar haus!

Tulisan ini tercipta karena kepopuleran kata kids jaman now. Saking populernya, hampir tiap jam saya tidak sengaja membaca atau tidak sengaja mendengar kata tersebut dilontarkan. Entah secara nyata atupun melalui media sosial. Selayaknya manusia yang tidak ingin ketinggalan zaman, saya sendiri sudah beberapa kali menggunakan kata-kata yang sedang menjadi tren tersebut. Entah secara langsung, ataupun melalui status yang diunggah ke media sosial.

Semakin ke sini, semakin tua bumi, semakin canggih teknologi, semakin aneh pola tingkah laku manusia. Aneh bagi orang-orang yang hidup di zaman yang berbeda. Tapi bagi mereka yang hidup di zaman yang sama, mungkin akan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Kendati demikian, mereka yang dibekali akal yang ‘sehat’ dan lingkungan yang ‘waras’, meski pun hidup di zaman yang sama, maka tetap akan merasakan keanehannya. Dan begitu lah yang sedang saya (dan mungkin sebagian kamu) rasakan.

Kita hidup pada zaman di mana akses informasi dari belahan bumi satu dengan belahan bumi lainnya yang terpisah jutaan mil dapat diperoleh hanya dengan satu kali klik dengan kecepatan yang tidak sampai satu menit. Kecanggihan tersebut mengikis dinding-dinding dan memutus jala-jala yang seharusnya menjadi penyaring kecocokan dan ketidakcocokan, kepantasan dan ketidakpantasan, kelayakan dan ketidaklayakan. Dengan begitu, budaya dari satu tempat sangat mudah terbawa arus ke tempat lain tidak peduli sejauh apa pun jaraknya. Menjadikan budaya yang sebelumnya sangat asing, menjadi sangat akrab dan berbaur dengan budaya setempat. Mudah diterima, menjadi bahan konsumsi, layaknya micin yang menjadi bumbu dapur utama di setiap masakan.

Okay. Back to kids jaman now.

Selain sebutan kids jaman now, manusia-manusia yang lahir di abad 21 – yang sering main ke 21 – itu juga disebut dengan generasi micin. Kenapa? Ya, mungkin karena tingkahnya seperti orang-orang yang mengonsumsi monosodium glutamate dengan dosis yang berlebihan – yang konon sangat dihindari ibu hamil karena dapat membuat calon bayi yang dikandungnya mempunyai kemampuan berpikir yang rendah alias bodoh. Ya mau diapakan lagi, toh produk-produk zaman now juga dilumuri micin. Saya malah sempat berpikir jangan-jangan si asing yang membuka banyak franchise di Indonesia memang sengaja melumuri micin di setiap produknya untuk melemahkan daya pikir anak-anak Indonesia. Biar nanti kalau mereka beranjak dewasa tidak sempat kepikiran untuk menghidupkan produk lokal dan mengusir si asing yang berkuasa.

Aneh, abnormal, atau mungkin, lucu dan menggemaskan menjadi ciri setiap unggahan status, foto atau video yang social-media-able, mengundang gelak tawa dan komentar sarkasme dari orang-orang yang sesungguhnya telah mendzolimi generasi yang diharapkan mampu menjadi emas di tahun 2045.

Tidak sedikit pula yang membanding-bandingkan tingkah aneh kids jaman now dengan kids jaman old. Termasuk saya. Kalau kita berteman instagram sejak setahun lebih yang lalu, mungkin kamu masih ingat dengan potongan caption yang disandingkan dengan foto bersama dua orang teman kecilku:

Zaman kanak-kanak kami dipenuhi banyak sekali permainan yang menyenangkan; asing-asing, bom, boy, layang-layangan, manjat pohon lobe-lobe, lompat tali, tukar binder, wayang, beklan, dan masih banyaaaaaaak yang lainnya. Sinetron tontonan kami? Uh, mendidik sekali. Ada si Eneng, si Entong, si Mamat, eh, ada Ronaldowati juga. Dulu di tempat mengaji kami, kalau kuku panjang pasti dipukul pakai mistar kayu, tapi kami tidak pernah panggil orang tua untuk memarahi guru mengaji kami.

Sedangkan, kids jaman now lebih memilih untuk bermain game yang menjadikannya kenal dengan kawan nun jauh di sana, bermain sosial media yang mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat, atau mungkin disuguhi tontonan yang akhirnya membuat mereka bermain pacar-pacaran mami-papi ayah-bundaan? – Eh, apa? Oh, serius pacaran, ya? Bukan main-main aja? Kalau gitu segera di-resmi-in dong. Hehe.

Apa yang membuat kondisi dulu dan kondisi sekarang yang terpaut sepuluh tahun itu berubah seratus delepan puluh derajat? Ya! Teknologi yang begitu derasnya menghujam kita. Akses informasi yang begitu mudahnya sampai ke tempat kita. Tidak peduli fakta atau hoaks. Semuanya dengan mudah dikonsumsi publik. Dan hal itu semua pun sangat mudah diperoleh sama kids jaman now. Sayangnya, mereka masih terlalu lugu untuk memilah mana yang boleh direplikasi dan mana yang tidak boleh.

Semua dikonsumsi, semua ditiru, tidak peduli hal itu benar atau salah. Pokoknya satu, yaitu bisa menjadi populer, mengikuti zaman, tidak kampungan, mendapatkan perhatian dan pengakuan hingga pada suatu ketika mereka akhirnya menjadi bahan ejekan, olok-olokan, candaan dan tertawaan orang-orang yang memiliki akal sedikit sehat.

Mengapa sedikit sehat? Karena orang-orang yang sepenuhnya sehat akan memandang hal tersebut sebagai hal yang sangat menyedihkan hingga tak layak sama sekali untuk ditertawakan. Layaknya orang meninggal, orang-orang seharusnya bersedih, bukan bergelak tawa. Nah, apa yang meninggal? Mari sama-sama berbela sungkawa atas moral yang perlahan tapi pasti, meninggalkan batang tubuh dan jiwa sanubari kids jaman now.

"Miris ya lihat adek-adek sekarang!"

Miris memang. Miris sekali. Sangat miris. Miris banget. Miris semiris-mirisnya.

Terus, kalau miris kita harus apa? Ikut andil menyebar-luaskan status, foto, dan video kids jaman now kepada para followers untuk sekedar dapat like atau komentar yang ramai? Biar orang-orang tahu kalau, wah, betapa lucu dan menggemaskannya adik kita yang satu ini? Atau, eh, ternyata kids jaman now itu (maaf) seburuk dan segoblok ini, loh! Lah, kids jaman now (sekali lagi maaf) buruk dan goblok itu karena siapa? Karena dirinya sendiri yang tidak dapat menyaring kepantasan dan ketidakpantasan budaya yang bahkan orang dewasa pun sulit untuk membendungnya? Coba sejenak tengok the old jaman now yang tengah asyik mengonsumsi video ‘lucu’ saat sedang rapat mengadu nasib bangsa.

Jika si the old yang seharusnya punya pikiran matang saja bisa se’khilaf’ itu, apalagi si kids yang masih dalam proses mencari jati diri. Terkadang, menghujat dan megolok-olok itu memang mudah. Parahnya, kita tidak sadar bahwa kita sedang menghujat dan mengolok-olok seseorang dan buntu akan solusinya. Maka akan jauh lebih berfaedah bila saja kita membantu si kids menemukan jati diri dengan versi yang pahlawan pendiri bangsa kita inginkan.

Sekali lagi, tolong bantu saya menjawabnya, untuk apa semua aib itu disebar? Eh, atau ada yang menganggapnya bukan aib, ya? Berarti kamu termasuk ke dalam orang-orang yang kurang peka dan kurang piknik. Maaf.

Semoga kids jaman now yang dengan lugunya meniru idola termehek-mehek mereka hanya karena ingin mendapat perhatian publik dan ingin populer – karena memang demikian nafsu di usia remaja bekerja dan akan menjadi parah bila tidak dapat dikendalikan – kelak diberi petunjuk dan jalan yang terang oleh yang maha kuasa.


Jadi, solusinya apa? Saya pun bingung, sobat. Saya harap yang maha pemberi petunjuk selalu memberikan peta terbaiknya kita semua.

Sunday, 22 October 2017

Idola dan Authentic Leadership

Saya percaya bahwa setiap orang bisa mengidolakan dirinya sendiri.

Saya selalu percaya bahwa setiap manusia yang terlahir di muka bumi ini memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kita itu sudah diberikan kapasitas masing-masing. Apa yang terbawa dalam diri kita sejak lahir itu akan menjadi penentu nasib di masa depan. Nah, tinggal kita sendiri yang menentukan apakah sisi yang kurang itu harus ditambal dan kelebihan itu harus dikendalikan atau membiarkan mereka berdiam diri begitu saja tanpa terjamah?

Beberapa bulan yang lalu di suatu seminar, saya mendapatkan materi yang berjudul Discovering Your Authentic Leadership yang intinya adalah setiap orang yang terlahir di dunia ini otentik, mempunyai keunikan dan ciri khas tersendiri, dibangun berdasarkan pengalaman dan mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi lingkungan sekitarnya.

Banyak orang yang bila ditanya siapa idolamu, maka akan menjawab ibu, atau manusia pilihan yang telah diberikan wahyu kepadanya. Saya pun tentu akan menjawab demikian. Bagiku, jawaban seperti itu adalah jawaban yang sudah seharusnya dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Idola yang saya maksud bukan pada ranah itu. Melainkan pada sosok manusia biasa. Bagiku, ibu bukan lah manusia biasa. Ia jelmaan malaikat tanpa sayap. Sebut saja manusia biasa itu adalah artis, atlet, tokoh politik, atau orang-orang biasa lain yang menemukan keistimewaan dalam dirinya sendiri sehingga orang lain melihatnya istimewa.
                                           
Saya setuju dengan pernyataan bahwa seseorang akan berperila saya meniru sosok idolanya. Tetapi, saya lebih setuju lagi bahwa seseorang sebaiknya tidak menduplikat idolanya. Mengambil yang baik-baik saja. Mengambil yang perlu diambil saja. Sejak kecil hingga sekarang, bila ditanya siapa tokoh idolaku, pasti jawabannya akan berbeda-beda. Teman-teman SD saya mungkin mendapat jawaban artis-artis sinetron yang sedang naik daun atau penyanyi seumuran saya yang sedang ikut ajang pencarian bakat pada saat itu. Teman-teman SMP saya mungkin mendapat jawaban tokoh politik yang menjadi suri tauladan banyak orang. Teman-teman SMA saya mungkin mendapat jawaban seorang sejarawan yang abadi dalam karya-karyanya.

Hingga saya sadar bahwa sebenarnya saya tidak pernah begitu fanatik dengan tokoh-tokoh yang pernah saya idolakan.

Kalau ditanya siapa idola saya sekarang? Saya akan menjawab seorang youtuber yang bagi saya mampu menjadi positive influencer di tengah-tengah kehancuran moral yang banyak terjadi di dunia maya zaman now.

Lalu apakah saya harus menjadi seperti dia seutuhnya?

Tentu jawabannya adalah tidak. Saya hanya mengambil apa yang menurut saya cocok untuk diterapkan kepada diri saya sendiri. Saya tidak bisa memaksakan diri saya untuk jago menyanyi dan ikut lomba paduan suara tingkat internasional. Saya juga tidak bisa memaksakan diri saya untuk jago menggambar memakai kuas dan cat air. Jangankan menggambar dengan hasil yang nyaris sempurna, untuk menarik satu lingkaran pun saya susah melakukannya. Tapi saya ingin untuk bisa mengecap pendidikan dan merantau ke negeri orang seperti dia. Atau setidaknya, menjadi positive influencer setidak-tidaknya bagi followers instagramku. Atau mungkin menulis catatan-catatan kecil di blog saya seperti yang kulakukan sekarang. Atau kah, mengadopsi cara berpikirnya yang kritis dan keren.

Itu pun tidak semua opini yang dikeluarkan dari idola saya itu ternyata sejalan dengan isi kepalaku. Saya tidak harus memaksakan diri untuk membenarkan semua opininya, bukan? Saya tidak akan mengubah ESTJ saya menjadi INTJ hanya karena saya mengidolakan dia. Setiap orang memandang sesuatu dari sisi yang berbeda-beda. Ada yang dari sisi depan, belakang, kiri, atau kanan. Setiap orang juga punya latar belakang dan pengalaman yang berbeda-beda sehingga menghasilkan kerangka berpikir yang berbeda pula.

Bila saya hanya menduplikat hal-hal yang melekat pada idola saya ke dalam diriku, harus menerima hal-hal yang tidak sejalan dengan pikiranku, memaksakan hal-hal yang saya sadari memang berada di luar batas kemampuan saya tanpa memedulikan bahwa sebenarnya ada ranah lain yang saya kuasai, maka sama halnya bahwa saya membuang-buang waktu dan kesempatan yang sebegitu besarnya Tuhan telah amanahkan kepadaku. Dengan menjadi orang lain, sama saja saya membunuh potensi alamiah yang sudah dititipkan ke dalam diriku.

Bersyukur dan berusaha itu menurut saya seperti sistem double entry dalam akuntansi, perlu diseimbangkan. Di satu sisi saya harus menyukuri semua yang telah ada pada diriku. Bersyukur menjadi diri saya dengan bentuk yang seperti ini. Di sisi lain, saya harus berusaha untuk lebih mengembangkan dan mengoptimalkan semua yang telah ada pada diriku. Termasuk berusaha memanfaatkan kelebihan saya agar berguna tidak hanya bagi diri saya sendiri, tapi juga bagi orang-orang di sekitarku.

Maka beginilah saya dengan segala kekurangan yang kumiliki. Bila kita harus sadar akan kekurangan yang kita punya, maka kita seharusnya lebih sadar lagi dengan kelebihan yang kita punya agar kekurangan-kekurangan itu bisa tertutupi. Bukannya karena ingin dikatakan sempurna, tapi untuk mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri kita sendiri. Sekeras apapun saya mencoba untuk menjadi orang lain, bila Tuhan tidak memberikan kelebihan itu untukku, pasti ada bentuk-bentuk lain yang bisa saya kembangkan. Saya percaya bahwa Tuhan memberikan porsi yang sama atas kelebihan dan kekurangan yang dimiliki manusia. Hanya bentuknya saja yang berbeda.

Idola saya itu bilang begini dalam bukunya, “Ternyata ada beberapa hal di dunia yang nggak bisa kita utak-atik, memang bukan kuasa kita.”


Jadi sudah tahu siapa idola saya sekarang? Besok lusa mungkin akan beda lagi.

Sunday, 15 October 2017

Rasanya Dipercaya

Saya percaya kamu tanpa peduli apakah kamu memercayai saya juga atau tidak.

Waktu saya masih SMP, saya sering curhat kepada seorang tante tersayang tentang cinta monyet saya pada waktu itu. Nah, giliran si tante yang jatuh cinta – senyum-senyum sendiri tak karuan – saya selalu menunggu dia untuk bercerita, hingga akhirnya saya sengaja cerita lagi tentang si cinta monyet saya itu, dan bilang ke tante, “Masa saya sudah cerita banyak, tapi tante masih merahasiakan”, dan jawaban tante saya itu  sesederhana ini, “Firda bebas untuk cerita segala hal ke tante, tapi bukan berarti tante juga harus menceritakan semuanya ke Firda.” Bila ditanya bagaimana perasaan saya waktu itu, yah, kesal bin sebal, lah. Orang saya sudah bocorkan semua rahasia, tapi si tantenya malah diam-diam saja. Seolah si tante ini sangat tidak memercayai keponakannya. Tapi, bila ditanya bagaimana tanggapan saya sekarang, yah, mungkin waktu itu si tante melihat Firda sebagai bocah kecil yang baru saja menginjak usia remaja. Sepertinya bukan pelabuhan yang tepat untuk kapal curhatan tante berlabuh.

Siapa yang menyangka kalau kejadian sesederhana itu bakalan saya ingat dan jadikan pedoman beberapa tahun ke depan. Di masa-masa SMA, utamanya. Masa yang kata orang paling indah, paling membahagiakan, paling berwarna. Saya pun mengaminkannya. Meskipun belum seartus persen karena saat ini saya masih sedang dalam proses menyelesaikan masa kuliah. Boleh saja persepsi tadi berubah dan menetapkan bahwa masa yang paling menyenangkan adalah masa kuliah.

Sejujur-jujur-jujurnya, saya bukan tipe orang yang terbuka, tapi tidak juga tertutup, posisi saya mungkin ada di pertengahan antara keduanya. Meskipun saya tidak suka kalau banyak orang yang terlalu tahu tentang kehidupanku, saya tetap butuh satu dua teman yang harus tahu banyak tentang apa yang sedang saya rasakan. Terbukti, di SMA saya punya beberapa “kunci”. Kunci yang mengetahui sejarah perjalanan SMAku. Sekarang pun, di masa kuliah juga begitu, saya punya dua kunci yang ketika orang lain sibuk menduga-duga, kedua kunci itu bisa mengetahui dengan jelas jenis keresahan apa yang tengah saya rasakan.

Tentang dipercaya…

Hal-hal yang tidak terduga itu ketika benar-benar terjadi, rasanya lebih indah dibandingkan sekadar diberi kejutan ulang tahun. Entahlah. Mungkin karena saya jarang sekali diberikan kejutan ulang tahun. Skip. jangan anggap ini serius, apalagi anggap ini sebagai kode. Please.

Sebulan yang lalu, ketika saya baru saja mencolokkan pengisi daya ke ponsel, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di sosial media alias chat dari seseorang yang baruuu saja akrab. Mungkin karena hampir seminggu kami bersama-sama dalam rentetan agenda yang segitu padatnya. Sepadat jalanan ibu kota yang kami tatap dari jendela di malam itu. Tsah. Isinya? “fir”, “fir”, “curhat dong”, “lg tengkar nih ma cewe gue”, disertai stiker moon yang lagi bertekuk lutut sambil nangis di bawah awan berhujan.

Bagi sebagian dari kalian mungkin sedikit lebay, ya, eh baru begitu saja sudah kagetan. Tapi bagiku, wow. Saya memang sudah sering sekali mendapatkan pesan sejenis itu dari Ari, Dzul, atau siapa lah teman yang akrabnya sudah sampai memercayakan kegundahan hatinya kepada seorang Firda. Perempuan yang begitu mudahnya berkawan karib dengan makhluk yang bernama lelaki tanpa ada baper sedikit pun. Tapi, adalah sebuah pengalaman baru mendapatkan kepercayaan menceritakan kegundahan hati dari seorang teman yang akrabnya baru minggu kemarin.

Saya sendiri pun bingung mengapa orang-orang begitu mudahnya percaya kepada seseorang yang lain. Bahkan bingung sama diri sendiri. Bisa, ya, segitu mudahnya saya menceritakan segalanya ke Diah teman sebang saya waktu SMA, misalnya. Atau ke kunci-kunci lain tanpa takut rahasia-rahasia kecil itu akan merembes ke mana-mana. Sekaligus penasaran. Apa yang membuat Ari dan teman-teman yang lain segitu mudahnya memercayai saya sebagai buku diarinya. Mungkin karena setiap mereka curhat ada solusi yang saya tawarkan? Sepertinya sangat-sangat tidak. Mungkin karena nyaman? Iya, tapi nyamannya karena apa? Atau mungkin karena saya selalu menjaga apa yang ingin menjadi rahasia mereka? Sepertinya alasan ini sedikit masuk akal.

Tapi bagaimana dengan kepercayaan yang lain?

Kepada orang-orang yang memercayakan ide?

Kepada orang-orang yang memercayakan amanah?

Kejutan-kejutan sederhana itu pun muncul dari adik-adik penerus perjuangan. Entah itu OSIS, Forum Anak, dan adik dari payung-payung yang sama lainnya. Kak, saya mau ikut kegiatan ini, disuruh buat esai yang temanya ini. Kira-kira menurut kakak saya baiknya menulis tentang apa? Bagaimana kalau yang ini? Atau yang itu? Atau Kak, menurut kakak, kalau saya ambil jurusan ini, atau kursus ini, atau kursus di bimbel ini, akan efektifkah? Lebih baik yang mana? Atau Kak, saya disuruh baca buku sama senior tapi buku yang tentang ini, kira-kira buku apa yang bagus untuk saya baca? Atau Kak, susunan acara untuk fun walk nanti sebaiknya penampilan hiburan dulu atau sambutan-sambutan dulu?

Ternyata kepercayaan itu selalu dibangun dari hal-hal yang sederhana saja.

Dan yang tidak kalah mengejutkannya adalah, ketika saya yang jarang kelihatan batang hidungnya, saya yang selalu ogah-ogahan, saya tidak pernah menjadi bagian yang cukup penting, diberikan kepercayaan untuk merangkul amanah yang sebegitu besarnya bagi saya.

Kalau ditanya bagaimana perasaanku setiap kali mendapatkan kepercayaan, rasanya, tidak adil sekali bila saya harus membusungkan dada. Saya sadar bahwa dibalik semua limpahan kepercayaan itu, rasa syukurlah yang patut saya besarkan. Syukur karena ternyata masih banyak sekali orang-orang yang sudah berbaik hati memercayakan Firda, yang bukan psikolog, atau pun ahli baca situasi, untuk sekadar dimintai saran sederhana. Saya pun sadar, bahwa saya tidak punya hak apa pun untuk membuat orang lain percaya kepadaku, termasuk kepada orang-orang yang saya percaya sekali pun. Karena kepercayaan itu tidak dibangun atas dasar pemaksaan, ia murni berasal dari hasrat ingin mengeluarkan resah.

Pararararam~

Tuesday, 23 February 2016

Setilik Kisah Meraih Toga

Oleh: Firda Amalia H

sumber: kompasiana.com

Detik demi detik berlalu. Masa demi masa berganti seiring dengan tumbuhnya kedewasaan diriku.
Tidak terasa, aku telah melalui serangkaian proses perjalanan hidup yang sangat berarti. Bertahun-tahun menimba ilmu di bangku sekolah, hingga saat ini aku bisa tersenyum bangga menyandang status sebagai mahasiswi. Dan akan terus berjuang memberi sumbangsih kepada ibu pertiwi.
Aku masih ingat segala kisah yang terjadi sebelum aku bisa menjadi diriku seperti sekarang ini.
Orang tua.
Bagiku, mereka punya andil yang sangat besar dalam hidupku.
Aku masih ingat betapa mereka selalu menyemangati setiap pekerjaan yang kulakukan, mengingatkanku bahwa aku bisa, betapa ridho yang mereka berikan kepadaku menambah peluang diriku untuk menggapai segala mimpi yang telah kucanangkan sejak dahulu, betapa tiada hentinya bibir mereka memanjatkan doa kepada Allah untuk melancarkan segala usahaku.
Di saat aku jatuh, mereka selalu siap untuk membagi tenaganya agar aku bisa bangkit kembali.
Apa yang telah mereka berikan, tak akan pernah bisa terhapus dari memoriku, akan kukenang sepanjang masa perjuangan mereka yang menjadikan diriku jauh lebih baik dari hari-hari kemarin.
Akupun berjanji kepada jiwa dan ragaku.
Akan kubahagiakan mereka.
Akan kuantarkan mereka kepada air mata haru akan kebanggaannya kepada diriku yang telah ia besarkan.
Tidak akan kusia-siakan didikan mereka selama bertahun-tahun.
Paling tidak, aku ingin melihat haru bangganya ketika di kepalaku melekat sebuah toga.
Agar mereka pun menjadi tahu, betapa beruntungnya aku dididik dan dibesarkan oleh mereka.